Kamis, Juli 24

MENGAPA KOMUNITAS HARUS BERGERAK DAN BERPERILAKU RAMAH LINGKUNGAN

Musisi harus menciptakan musik. Pelukis harus menggoreskan lukisannya. Penyair harus menulis sajaknya. Mereka harus melakukannya agar mencapai puncak kedamaian dalam diri mereka sendiri. Seseorang harus menjadi apa yang mereka bisa jadi. (Abraham Maslow).

Kutipan itu membuat pemicu reaktualisasi individu untuk memenuhi kedamaian dalam dirinya ketika membaca kata bijak tersebut. Para pelukis, pemusik, penyair di kota Yogyakarta yang pernah meranah ke publik domestik dan mancanegara merupakan kumpulan seniman yang terus menerus meminati kedamaian dalam diri mereka. Menghasilkan karya demi karya sebuah kepuasan batiniah tersendiri yang tidak dapat dicuri oleh pesatnya persaingan dalam menuruti pertumbuhan ekonomi dikota Jogjakarta. Karya-karya mereka mampu mempengaruhi peminat seni yang menyukai idealisme-idealisme yang dituangkan dalam hasil karya. Kekuatan ekspresi dalam sebuah karya para seniman, komunitas film dan fotografi ini dapat menerjemahkan makna berdasarkan arti bagi masing-masing si peminat seni dan masyarakat tersebut sehingga menciptakan makna yang dapat merubah, membentuk, dan menginformasikan individu tersebut.

Belum lama ini seorang politikus Belanda yang bernama Geert Wilders mengeluarkan sebuah film yang dapat dikategorikan film documenter berjudul “Fitna”. Film tersebut memberi banyak penerjemahan yang sangat berbeda bagi yang menyaksikannya. Terbukti dengan melihat jejak pendapat di sebuah situs internet “Yahoo Answer” mengenai tanggapan terhadap film tersebut. Akhirnya tidak bisa dihindarkan, bahwa film tersebut menimbulkan reaksi yang luar biasa di dalam negrinya maupun dari seluruh dunia. Menakjubkan bukan…!!! Dengan menggabungkan beberapa rangkaian kejadian yang terekam dalam sebuah gambar, kita mampu memberi informasi baik itu positif ataupun negatif yang dapat mempengaruhi sekitar kita. Contoh lain seperti gempa dan tsunami Aceh dan gempa Yogyakarta masing-masing memberi informasi yang menggugah hati di seluruh dunia untuk bergerak dan melakukan sesuatu. Dukungan moral dan materi berdatangan setelah melihat cuplikan gambar tersebut.

Contoh selanjutnya dari sebuah hasil dokumentasi foto, pada awal tahun ini Balai lelang Christie di Perancis menjual selembar foto telanjang Carla Bruni, istri Presiden Perancis Nicholas Zarkozy, seharga US$91.000 (sekitar Rp836 juta). Siapa pembelinya masih belum diketahui, kata kantor berita setempat. Balai lelang Christie menyebut foto tersebut diambil oleh fotografer Michel Comte pada tahun 1993. Dan ini merupakan salah satu koleksi yang dimiliki oleh Gert Elfering dari Munich. Bayangkan, bahkan sebuah foto hampir menyamakan harga sebuah mobil mewah…!! Pointnya adalah foto pun mampu merubah sudut pandang seseorang terhadap materi dan membentuk suatu level kepuasan tersendiri untuk dapat memilikinya. Untuk Gert Elferg pada tahun dia mengambil gambar tersebut mungkin tidak pernah berfikir kalau dokumentasinya bisa semahal itu. Tapi seperti kata bijak berikut ini;

Hiduplah seperti pohon kayu yang lebat buahnya; hidup di tepi jalan dan dilempari orang dengan batu, tetapi dibalas dengan buah. (Abu Bakar Sibli)

Begitulah yang sedang terjadi dan harus kita terima belakangan ini. Ketika para komunitas yang penuh dengan kreativitas, daya, dan cipta untuk sebuah karya berada dalam pertumbuhan demografi dan ekonomi. Contohnya di kota Jogjakarta yang begitu pesat pertumbuhannya membuat komunitas ini menjadi aspek yang lambat laun tenggelam. Padahal kota Jogjakarta dalam catatan karyanya telah mencetak beragam seniman, sineas-sineas, musisi dan kelompok-kelompok lainnya yang disebut kelompok kreatif ini ke ranah masyarakat nasional maupun internasional. Sebut saja almarhum pelukis ternama Afandi, Garin Nugroho, Butet Kertaredjasa, Djaduk Ferianto, Bagong Kusdiharjo, Edi Sunarso, Amri Yahya, Kuswadji Kawindro Susanto dan lain-lain merupakan nama-nama yang ikut memperkuat peranan Yogyakarta sebagai Pusat seni dan kebudayaan. Mereka menjadi bagian di dalam perkembangan kota Jogjakarta yang sempat mengidentifikasikan diri sebagai “Never Ending Asia” dan kemudian “City of Harmony” atau “City of Tolerancy”, sebuah reposisi dalam kehidupan dunia yang semakin sesak dengan sekian banyak persoalan sosial, politik, lingkungan, agama, dan kemanusiaan. Komunitas ini berinteraksi dengan seluruh bagian komposisi penduduk Jogjakarta, baik dari peminat seni, film, musik, fotografi dan science yang senantiasa dapat menjadi sarana untuk meyebarluaskan informasi terkait dengan isue lingkungan hidup. Seperti contoh isue perubahan iklim melalui bahasa mereka masing-masing. Dengan menciptakan lagu yang mampu menginspirasikan setiap pendengarnya dan menggugah kesadarannya untuk berperilaku ramah lingungan. Melalui rekaman gambar yang juga mampu memberi informasi, pemahaman dan pengertian akan pentingnya peran masyarakat berperilaku ramah lingkungan. Jika kalangan komunitas ini memulainya maka bukan saja komunitas mereka yang memiliki perilaku ramah lingkungan, namun dari seluruh elemen yang berinteraksi dengan komunitas ini akan terpengaruh. Dahsyat bukan jika dseorang psikologh dapat berkata bahwa hidup manusia banyak terpengaruh dengan apa yang dilihat dan didengarnya, maka komunitas kreatif ini dengan mudah mampu mepengaruhi masyarakat melalui kreasi yang mereka buat. Sehingga pola perilaku hidup ramah lingkungan dapat menjadi inspirasi kepada seluruh masyarakat di wilayah perkotaan Jogjakarta. Apalagi tingkat pendidikan masyarakat perkotaan Jogjakarta cukup tinggi, masyarakat perkotaan telah menjadi informasi sebagai salah satu kebutuhannya. Dan perilaku ramah lingkungan mulai dapat menjadi wacana di kalangan masyarakat, sehingga akan sangat membantu masyarakat untuk mendapatkan gambaran utuh tentang perilaku ramah lingkungan. Siapapun kita Apapun profesi kita. Asalkan tidak berada di luar jalur norma masyarakat, kita ini istimewa dan memiliki potensi. Apalagi untuk lingkungan hidup, pasti ada yang selalu kita perbuat.

Apa pun tugas hidup anda, lakukan dengan baik. Seseorang semestinya melakukan pekerjaannya sedemikian baik sehingga mereka yang masih hidup, yang sudah mati, dan yang belum lahir tidak mampu melakukannya lebih baik lagi. (Martin Luther King)